Manakah yang Patut Untuk Disesalkan?

penyesalan


Entah kenapa berbicara tentang penyesalan adalah satu hal yang identik dengan personalitas. Setiap orang tentu memiliki kisah hidupnya masing-masing, yang baik atau buruknya seakan tidak perlu untuk diungkap apalagi dibincangkan di hadapan khalayak.

Meski begitu, penyesalan adalah hal yang harus dilakukan oleh setiap insan. Hal ini diperbuat lantaran sebagai manusia yang lemah lagi bergelimang dosa, seperti saya, seharusnya menjadikan penyesalan sebagai bentuk intropeksi diri. Atau dalam agama dikenal sebagai muhasabah.

Saya tak tahu harus memulai dari mana untuk menjawab pertanyaan dari Challenge BPN,  tentang "Hal yang disesali saat ini." Yang saya tahu, terlalu banyak hal yang saya sesali, sampai-sampai saya bingung mana yang patut untuk benar-benar disesalkan sekarang ini?

Saya membagi penyesalan ini ke dalam 2 bagian. Penyesalan untuk urusan horizontal dan vertikal. Dengan penjelasan sebagai berikut:

Penyesalan Untuk Urusan Horizontal

Maksud horizontal di sini, saya artikan penyesalan yang terjadi tentang urusan sosialisasi atau hubungan kepada sesama. Atau saya masukkan juga ke yang sifatnya personal.

Contoh penyesalan itu, adalah:

Pertama, kurangnya memanage waktu. Jika ditanya "Apa yang disesali saat ini?" Saya hanya terdiam dan menjawab dalam hati bahwa saya menyesal karena belum bisa mengatur waktu dengan baik. Banyak pekerjaan yang sering saya tunda-tunda, padahal bisa dikerjakan sesegera mungkin. Banyak juga kegiatan dan aktivitas organisasi yang kurang terlaksana akibat kurangnya disiplin waktu. Mau tidak mau, intensitas dan hubungan kepada sesama sering saya nomer duakan karena tugas pribadi belum selesai.

Kedua, terlalu banyak berkata "Tapi" dan "Nanti". Kedua kata itu ditebalkan, sebagai bentuk penekanan atas penyesalah saya saat ini. Saya merasa menyesal karena sering berkata tapi dan sering berkata nanti. Sejatinya, banyak hal yang seharusnya bisa terealisasikan, namun karena sering melakukan 2 hal negatif diatas jadilah semua itu belum menjadi pencapaian. Hanya sebuah keinginan. 

Contohnya saja, saya ingin membangun kelas keterampilan dan diskusi kepada remaja putri di kampung. Ingin membangun sebuah komunitas yang bisa membuka wawasan dan keterampilan untuk pemudinya. Nyatanya, semua itu belum tercapai karena seringnya berkata tapi dan nanti. 

Penyesalan Untuk Urusan Vertikal

Maksud vertikal di sini, saya artikan penyesalan yang terjadi lantaran hubungan saya sebagai hamba kepada Allah, Sang Pencipta.


Penyesalan itu terlalu general. Saya menyesal dan merasa amat berdosa karena sering kali bersuuzon terhadap takdirnya. Ujian yang pernah datang, saya rasa sebagai bentuk ketidak adilan. Astagfirullah. Padahal, yang menurut kita baik, belum tentu baik bagi hidup kita. yang menurut kita buruk, belum tentu buruk bagi kita. Karena Allah selalu tahu mana yang terbaik untuk hambaNya.

Penyesalan lainnya, saya sering menunda berbuat kebaikan atau amal sholeh. Saya tidak perlu jelaskan di yang mana? Rasanya, jika dosa itu bagaikan nanah dan berbau busuk, sungguhlah saya merasa akan terasingkan, karena dosa yang saya pikul entah seberapa besar dan beratnya. Tapi, Allah Maha Pemaaf. Sebab itu, penyesalan tersebut berusaha saya sandingkan dengan lafaz istigfar. 

Penyesalan lainnya, saya merasa menjadi hamba yang jarang bersyukur dan masih saja sering melihat  ke atas. Padahal, untuk urusan dunia kita harus melihat ke bawah. Perihal akhirat, baru kita melihat ke atas. 

Mengapa? Sebab, dengan melihat ke bawah pada perihal keduniaan, menjadikan kita selalu pandai bersyukur dan berhenti membandingkan dengan kehidupan orang. Perihal mendongak ke atas untuk melihat urusan akhirat, kita tidak boleh merasa cukup dengan ibadah atau ilmu dan amal yang telah kita lakukan. Sebab, di atas langit masih ada langit.

Tentunya, masih banyak lagi penyesalan yang tak bisa saya jabarkan.

Perihal penyesalan, tentu pernah dirasakan semua insan. Namun, menyesal bukan berarti sebagai alasan kita tidak bisa berbenah dan memperbaiki apa yang telah terjadi. Sebab, semua hal tersebut pasti ada hikmah atau pelajaran yang bisa kita ambil.

Jadi, manakah yang patut untuk disesalkan, bagi kalian?

#ChallengeBPN30day2018

0 comments

HUT Bukalapak