Dimana Cinta Itu?

Kata orang, jika cinta maka kita akan sering menyebut namanya, melafalkan di lisan bahkan juga di hati?

Namun, sudahkah lisan ini menyebut asmaNya?
MemujiNya.
MemuliakanNya.
Atau jangan-jangan lisan dan hati ini malah jauh bahkan jarang berdzikir kepadaNya.


Dan lagi kata orang, jika cinta maka kita ingin sekali bertemu dengan yang dicinta?
Bergegas tuk jumpa bahkan ingin sekali berlama-lama denganNya?

Namun, mana cinta itu?

Mengapa justru masih saja diri kita asik dengan arsip-arsip dan berkutat di depan layar saat adzan berkumandang?

Mengapa masih saja diri ini santai ber-haha-hihi dengan teman saat tiba waktunya shalat?

Mengapa masih saja jiwa ini betah lama-lama berselancar di dunia maya padahal waktu mendirikan shalat telah lewat?

Katanya cinta? Tapi mana buktinya?
Mana cinta itu? Mana cinta yang kita janjikan untuk Dia Yang Maha Esa?
Jangankan cinta. Bertemu pun, menyambut panggilannya, kita masih saja sering merasa berat untuk melangkah.

Padahal saat adzan berkumandang, “Allahu Akbar… Allahu Akbar”. Artinya segalanya kecil.
Semua mengecil. Termasuk urusan dunia, pekerjaan, aktivitas, belajar, dan segalanya.
Hanya Allah Yang Maha Besar.
Allah Yang Maha Besar.
Tak ada yang lain.

Sepatutnya, kita berlari dan bergegas menyambut seruannya.
Berlomba mendapatkan posisi terdepan dalam rumahNya.
Membentangkan sejadah dan bermesraan denganNya.
Meresapi tiap bacaan yang dilafalkan dan mendekatkan hati padaNya.

Jadi mana bukti bahwa kita mencintai Sang Pencipta, Allahu Rabbuna?
Ah, namun mengapa cinta ini hanya manis di bibir saja?

Nyatanya cinta yang kita sebut tak jauh hanya sebatas pemanis di mulut.

YaAllah. Ampunilah kami yang mengaku mencintaimu tapi tak jarang melalaikan perintah dan kewajiban kami padaMu.

YaAllah. Jika diri kami lalai dalam beribadah kepadaMu, Ampunilah. Sadarkanlah hati yang lengah ini.

YaAllah. Izinkanlah kami membuktikan cinta ini secara nyata. Bukan sekedar janji belaka atau sekedar angan saja.

0 comments