Cegah Hoax dengan 5 Peran Ini! Apa Sajakah?

Salam, perkenalkan saya Rif'atunnisa, author dari famotiva. Sahabat semua pasti pernah mendengar istilah ini “Lebih baik mencegah dari pada mengobati”. Pasti yang terlintas pertama kali dari arti kalimat itu adalah persoalan obat dan pencegahan penyakit kan? Hayoo siapa yang begitu:D

Istilah “Lebih baik mencegah daripada mengobati” memang pas untuk kasus diatas, namun secara garis besar lebih baik mencegah juga sesuai bila dikaitkan dengan hal lain. Misalnya saja mencegah konten hoax. Ya, hoax.

Sahabat semua pasti sudah familiar dengan si Hoax ini bukan? Hoax yang terdiri dari empat huruf ini bukanlah kata biasa, tapi dia memiliki efek samping yang luar biasa.

Ya, si hoax ini memiliki kemampuan yang powerful. Akibat kekuatannya, ia bisa memecah belah persatuan, bisa melahirkan korban yang terzalimi (karena tak tahu apa-apa) tapi terlanjur difitnah, ia juga bisa membuat orang mudah untuk menjudge (menghakimi) secara sepihak tanpa tahu kebenarannya. Tak main-main bahkan hoax bisa membuat seseorang harus tinggal dibalik jeruji besi.

Dan pastinya, antara sadar ataupun tak sadar, kita mungkin pernah menjadi bagian dari korban atau pelaku dari menyebarnya hoax atau lebih akrab dikenal dengan informasi palsu. Entah informasi tersebut beredar di dunia cetak atau digital. Baik itu pada sosial media atau situs-situs di internet.

Entah bagaimana asal muasalnya, hawa panas yang dibawa oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab membuat kasus hoax terus mengalami peningkatan. Dikutip dari laman CNN Indonesia menyebutkan bahwa Komenterian pimpinan Rudiantara itu mencatat peningkatan situs bohong terjadi sejak Oktober sampai pertengahan Desember 2016. (CNN Indonesia, 2016)

Tak cukup dengan menyebar hoax disana-sini, konten-konten yang mengandung unsur kebencian, provokasi, pornografi serta SARA juga meningkat tajam. Anehnya kebanyakan dari kita justru dengan mudahnya terpancing dan gegabah dalam bertindak. Contohnya saat menemukan berita-berita di sosial media dengan mudahnya percaya. Meski kondisi saat itu belum tuntas membaca informasinya. Namun tergesa untuk menekan tombol share. Berharap orang lain mengetahui beritanya juga.

Sayang sungguh sayang, tindakan ceroboh seperti itu justru sering terjadi. Sampai-sampai pemerintah mengalami kesulitan dalam meneliti situs-situs yang mengandung hoax untuk diblokir. Kasus hoax itu sendiri dilansir dari JawaPos.com mulai mencuat ke permukaan dunia informasi pada Pilgub 2012 dan dilanjut pada Pilpres 2014. (JawaPos.com, 2017)

Melihat kasus-kasus diatas, disini saya akan memuat tulisan tentang peranan serta cara yang perlu dan harus kita semua lakukan untuk menumpas, mencegah atau setidaknya meminimalisir berita-berita hoax yang telah merajelela dan merusak pola pikir serta kehidupan sosial kita.

Lantas siapa saja yang berperan dan konsep seperti apa saja yang perlu dilakukan untuk mencegah konten hoax? Berikut uraiannya.

Peran utama ada pada diri kita. Ya setiap diri kita memiliki tanggung jawab untuk mencegah, menolak dan menghentikan hoax atau berita palsu yang ada. Apa yang perlu kita lakukan? Yang perlu dilakukan pertama kali adalah selalu budayakan membaca sampai tuntas. Sampai habis. Sampai selesai. Artinya jangan biasakan membaca konten, berita atau informasi hanya setengah-setengah. Misal hanya membaca judul saja. Karena membaca sekilas dari judul yang tertera sudah membuat anda penasaran dan terpancing jadilah anda mempercayainya lantas tergesa-gesa untuk menyebarkannya.

Ketika kita membiasakan untuk selalu membaca sampai tuntas alias tidak loncat sana-sini, kita akan lebih teliti dalam mencermati konten yang ada. Kendatipun kita menemukan konten yang sejenisnya kita akan paham bahwa informasi dari yang satu dan yang lain memiliki perbedaan yang jelas. Misal yang satu bernada provokasi, satunya hanya berita dan informasi saja.

Tak cukup dengan membudayakan membaca sampai tuntas. Kita juga tidak boleh tergesa dalam menyebarkan suatu berita yang kita sendiri pun terkadang tidak yakin akan kebenaran informasinya. Lalu imbangi kembali sikap tidak tergesa itu dengan selalu cek dan ricek segala bentuk informasi baik yang berupa tulisan, gambar, video, berita, dll. Karena salah saja dalam bertindak, kitalah yang akan menanggung resikonya.

Dengan demikian, kita akan lebih cermat, teliti dan tegas dalam menyikapi informasi yang kita dapatkan. Sehingga tidak gegabah ataupun mudah terhasut oleh berita yang tak jelas asal usul serta kevalidannya.

Selanjutnya adalah peran keluarga. Terutama bagi anda yang menjadi orang tua, lakukanlah edukasi serta pemantauan terhadap gadget dan sosial media yang digunakan anak-anak. Menurut laporan dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) sepanjang tahun 2017 lebih dari setengah penduduk Indonesia telah menggunakan internet dalam kehidupannya. Dengan persentase lebih dari 50 artinya ada kurang lebih 143 juta pengguna internet di Indonesia. Dan sekitar separuhnya para pengguna internet adalah anak muda hingga dewasa. Dari yang berusia belasan tahun hingga puluhan.

Tak heran, pembekalan smartphone yang diberikan para orang tua kepada anaknya terkadang justru menjadi boomerang yang tak disadari. Kemudahannya dalam mengakses berbagai konten membuat anak justru hilang kendali. Entah penggunaan digunakan untuk mengakses hal-hal positif atau hal-hal negative tak sedikit orang tua yang tak ingin ambil pusing, selama dirasa gerak-gerik anak masih dapat mereka pantau.

Disinilah peran para orangtua atau peran keluarga terhadap anggota keluarganya. Ayah dan ibu berperan untuk mengedukasi kepada anak-anaknya. Seorang kakak berhak memantau penggunaan sosial media adiknya ataupun sebaliknya.  Diperlukanlah interaksi untuk saling bertukar pendapat dan wawasan tentang berbagai hal. Diantaranya tentang penggunaan internet yang baik dan bermanfaat. Termasuk tidak lekas percaya terhadap suatu berita, apalagi informasinya mengandung nuansa kebenciaan atau SARA.

Yang berperan untuk menumpas dan mencegah konten hoax selanjutnya adalah teman atau lingkungan. Ya, seorang teman atau lingkungan tidak hanya berperan untuk membentuk karakter seseorang. Teman, kawan atau sahabat juga berperan untuk membantu mengawasi temannya dalam kasus tersebarnya hoax.

Antara kawan yang satu dan lainnya perlu untuk bertukar wawasan tentang informasi apapun yang mereka dapatkan. Lalu berdiskusi bila dirasa penting dan sensitive untuk sama-sama mempelajari dan mengenal apakah benar informasi tersebut nyata atau hanya isu burung semata.

Lantas bagaimana jika seorang teman sudah terlanjur basah menyebarkan konten hoax? Yang perlu dilakukan oleh temannya adalah menegurnya, menasihati bahwa apa yang dilakukannya salah. Tentu dengan etika yang baik agar dia tidak merasa tersinggung atau merasa tersudutkan. Karena boleh jadi dia melakukannya karena kurang wawasan dan gegabah dalam bertindak. Disinilah pentingnya sosok teman dalam membantu pencegahan hoax.

Next, guru dan sekolah adalah yang berperan dalam pencegahan informasi bohong. Yang perlu dilakukan oleh sekolah dan guru adalah memberikan pendidikan dan konsep seputar dunia internet, mengajak penggunaan internet yang sehat, dan memberikan arahan tentang bagaimana cara mengenal konten hoax yang kini menyebar. Edukasi bisa disampaikan dengan melampirkan buletin pada mading sekolah ataupun mengadakan kelas terbuka di setiap sekolah kepada para murid atau mahasiswanya tentang antisipasi dan cara mencegah informasi palsu.

Dan terakhir, yang sangat berperan demi tercapainya visi untuk mencegah segala konten palsu adalah peran pemerintah. Perannya adalah mengedukasi masyarakat tentang program anti berita hoax, seminar cara mencegah dan menghadapi konten hoax yang diadakan secara bergilir di setiap wilayah, serta menayangkan iklan di televisi dan media sosial tentang UUD ITE dan hukuman bila menyebarkan hoax. Sehingga setiap orang akan lebih awas dalam bertindak.

Itulah sedikit ulasan tentang siapa dan apa saja peran yang perlu dilakukan untuk mencegah segala konten hoax.

Terimakasih

Tulisan ini dimuat dalam rangka blog competition yang diadakan oleh C2live.com

Sumber:
  1. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20161230125808-185-183096/asal-mula-situs-hoax-berkembang-di-indonesia
  2. https://www.jawapos.com/read/2017/01/07/100597/sejarah-fenomena-berita-hoax-di-indonesia
  3. https://tekno.kompas.com/read/2018/02/22/16453177/berapa-jumlah-pengguna-internet-indonesia



0 comments