Kala Hati Berbicara

Bismillahirrahmanirrahim.
Image result for muslimah hijrah
Google Image

Setiap orang lahir dalam keadaan yang fitrah (suci). Namun seiring waktu, bertambahnya usia, berkembangnya raga berlalu begitu cepat. Tanpa terasa semua dilewati begitu saja, masa melaju dan dosa kerap saja dilakukan. Kendati demikian, dalam hati selalu saja ada rasa ingin berubah. Aku ingin hijrah.

Ya, jadi lebih baik dengan berhijrah. Hijrah dalam arti berpindah menuju arah hidup yang lebih baik. Lebih tertata. Lebih terjaga. Tentu tidak hanya dari segi berpakaian seorang muslimah bisa dikatakan telah hijrah. Tidak cukup hanya dengan berjilbab. Tidak cukup hanya sekedar pandai mengaji. Namun lebih dari itu, cara bergaul, berbicara, berbusana, beretika dan lain sebagainya harus sesuai dengan syariat.



Menjadi cantik saja tidak cukup. Tentunya pondasi yang harus tertanam sejak dini adalah bagaimana menjadi seorang muslimah yang saliha dan inspiratif juga harus dipelajari. Sebagai seorang muslimah di era dewasa ini segala hal seakan begitu samar. Mana yang baik dan mana yang tidak seakan melebur menjadi satu. Pakaian yang seharusnya tak dikenakan justru kini banyak menjadi sorotan bahkan rebutan.

Meski demikian, saya belajar bersyukur dan bahagia. Alhamdulillah, orang tua memberikan pendidikan agama yang lebih dari cukup untuk bekal anak-anaknya. Tak hanya sekedar diajarkan shalat, mengaji. Namun lebih dari itu, saya dan saudara-saudara diberikan kesempatan untuk menimba ilmu di sebuah pesantren.

Saya sadar, berada di lingkungan agamis pun rasanya tidak cukup untuk membuat seseorang bisa menemukan hidayah. Ilmu agama saya masih awam. Kian lama saya sadar bahwa saya tidaklah memiliki ilmu yang cukup, itulah mengapa rasa ingin tahu dan belajar terus menggebu.

Bahkan, celana-celana levis yang dulu mulai saya tinggalkan. Pelan-pelan satu-persatu banyak yang berubah. Seperti tergesernya celana digantikan oleh rok. Semua itu terjadi karena makin meletupnya rasa malu untuk mengenakannya. Yang saya khawatirkan, tidakkah semua pakaian dan celana itu akan menampilkan lekuk tubuh. Semakin dewasa saya semakin malu saat mengenakan jilbab yang berbahan tipis. Hati lebih mudah awas. Rasa takut ada saja tiba. 

Image result for mawar merah wallpaper
Google Image
Kala itu, saya suka sekali memperhatikan orangtua, sanak kerabat, tetangga, guru yang selalu berpakaian syar’i. Jilbab dan pakaian yang dikenakan tidak hanya menutup, tapi juga tebal, tidak menerawang dan pastinya tidak ketat. 

Rupanya dengan banyak melihat, memperhatikan, hati ikut berbicara. Ada rasa ingin seperti itu. Walau  belum sempurna, setidaknya sedikit demi sedikit ingin berubah (lebih baik). Begitu kira-kira hati berbicara. Ingin menjadi hambaNya yang shalihah. Sebab kepada siapa lagi hati berharap kecuali padaNya. Hijrah ini pun demi memohon ridhoNya. 

Dalam perjalanan terkadang ada saja kerikil berada, sama seperti proses hijrah. Ada saja ujian yang melintas. Guyonan-guyonan, candaan, ejekan bahkan pandangan yang menyakitkan hati. Dari ucapan yang lembut, "Bu ustazah mau kemana make gamis?", sampai yang "Dah kayak emak-emak aja make baju begitu!" Semua menghadang dan lenyap begitu saja.


Untuk itu saya perlu motivasi, dan salah satu motivasi yang melekat dihati adalah  dengan mengingat sabda Nabi Saw, yang artinya: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalehah.” (HR. Muslim)

Dan nyatanya semua itu justru menjadi seperti jamu, pahit tapi menguatkan. Bahkan kerap kali saya harus tersenyum jika mengingatnya. Memang benar kawan, jika kita mau dapat cinta dan lebih dekat kepada Allah maka juga harus ekstra niat dan kekuatannya. Supaya tidak lemah, tidak mundur ditengah jalan.
Hingga kini rasanya makin haus akan ilmu. Keinginan menjadi lebih baik umpama sebuah candu yang harus diobati. Dan salah satu obatnya adalah dengan terus belajar, berbenah atau hijrah. Tentunya semua itu mudah bila kita tak sendiri, maka penting sekali untuk memilah dan memilih lingkungan yang baik.

Image result for HIJRAH
Google Image
Dan tak cukup sampai pada kata shaliha, seorang muslimah juga harus pandai menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi teman-temannya tapi juga keseluruh khalayak ramai. Dari hal-hal kecil sampai menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan indah oleh sesama tapi juga lebih kepada diri kita adanya.

Yuk sahabat shaliha, mari bersama kita tinggalkan masa lalu. Ambil yang pahit untuk dijadikan pelajaran. Dan yang manis untuk kita jadikan sebagai acuan. Acuan, motivasi untuk terus menjadi pribadi yang baik.

Sebagian orang mungkin memiliki masa lalu buruk.  Tapi semua orang berhak memiliki masa depan yang baik. Inilah tugas kita untuk belajar dan memperbaikinya." -Famotiva

Salam,


Hamba Allah


6 Muharram 1439 H


0 comments