Cerpen: Ia yang Mulia, Tapi Kuhina

Jam dinding di sudut ruangan telah menunjukkan pukul 22.15 WIB. Waktu yang cukup  malam bagi seorang anak berumur empat belas tahun. Sesosok perempuan berkacamata tengah asyik berkutat dengan layar monitor di hadapannya. Safina khoironi namanya. Ia tengah asyik menekuni baris demi baris yang tertuang dalam beberapa paragraf. Hingga kini telah mencapai lima halaman. Ada rasa bangga tersendiri ketika ia berhasil menuntaskan tugas dari bu Fatma, guru bidang studi bahasa Indonesia. Tugas menulis sebuah cerpen yang bertemakan “Sosok Pemimpin Harapan Bangsa”. 

Setelah seharian ini ia mencari ide. Menulis kemudian menghapus. Menulis lagi kemudian menghapus hingga berulang kali. Akhirnya pada tulisan terakhirlah ia yakin bahwa inilah tulisan terbaiknya. Dan senyuman manis terlukis diwajahnya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, sosok wanita dewasa yang kerap disapa bunda melangkah mendekatinya. Memeluknya dari belakang. Sapaan tubuh yang amat menetramkan.

“Fina…. sudah selarut ini, kenapa kamu belum tidur sayang?” Tanya bunda lembut sembari menatap kedua bola mata indah milik putri tercinta.
“Iya bunda, sebentar lagi Fina pasti tidur. Tapi… setelah tugas ini selesai” jawab Fina merajuk manja.

Setelah memastikan bahwa putrinya itu akan menepati janjinya untuk segera pergi tidur, bunda pergi meninggalkan Fina yang kembali khusyu dalam tugasnya.

Detik, menit, dan jam silih berganti. Hingga mata Fina terasa mulai berat, tak kuat rasanya harus bersitatap lagi dengan layar monitor. Matanya mulai perih. Dan sudah berkali-kali ia menguap tanda mengantuk. Maka setelah data berhasil dicetak, beberapa lembar kertas itu pun kini digenggamnya. Lantas detik berikutnya Fina menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia pun terlelap semakin dalam.
* * *
Pagi yang cerah. Mentari bersinar hangat. Burung-burung berkicau riang. Senandung alam pagi itu amat bersahabat. Namun sayang, sosok seorang gadis justru sibuk berlari-lari didalam rumahnya. 

“Fina, sarapan yang benar dong sayang!” perintah Bunda sambil menuangkan susu di gelas putri semata wayangnya. Ia kemudian mengaduknya lalu menyodorkannya kepada putrinya.

"Ini ayuk diminum dulu.."Tutur bunda lembut.
“Bunda, Fina udah telat banget nihh,,, “ ujar Safina, gadis yang tengah sibuk memasukkan bekal makan siang kedalam tasnya dilanjut meminum susu yang diberikan bunda.

“Udah ya bun, Fina jalan dulu…” ucapnya sambil mencium punggung tangan ibunda tercinta. “Assalammualaikum …” Pamitnya kemudian berlalu pergi. Bunda hanya geleng-geleng kepala, sambil menjawab salam dengan lembut.
* * *
Tepat sesuai dugaan, ia datang terlambat ke Sekolah. Terbukti dari pintu gerbang sekolah yang telah terkunci rapat. Tuhkan aku beneran datang telat, ah ini semua gara-gara siapa coba? Aku atau bunda sih? Ah sebel pokoknya, gerutu Fina sambil berkacak pinggang. Saat ia benar-benar merasa kesal, tiba-tiba datang seorang perempuan berjilbab berdiri beberapa langkah tak jauh darinya.

“Ya Allah, aku telat lagi, bagaimana ini? “ tanyanya pada diri sendiri.

Baru saja Fina merasa terpuruk sendiri, tiba-tiba datang seorang gadis seusianya yang bernasib sama dengannya pagi itu, Ia mendekatinya. Menepuk pundaknya dari samping.

“ Hei kamu, aku juga telat.. kita..“ Belum sempat ia melanjutkan ucapannya pada sosok perempuan berjilbab disampingnya. Tiba- tiba jantungnya berdegup kencang. Fina kaget bukan main. Saat sosok yang tengah disapanya pagi itu sedikit menakutkan. Putih namun ada bercak merah. Seperti luka bakar. Ia tak berani menatap wajah itu lama-lama. Hei lihat? Bahkan bukan hanya wajahnya, tapi kedua tangannya juga hampir serupa dengan wajahnya, batinnya berbicara.

Fina bergidik dan menjauh, ia merasa jijik. Bagaimana mungkin sosok wajah yang menyeramkan itu berada dekat dengannya saat ini. Maka tanpa menunggu lama, Safina dengan seragam dan jilbab putih itu berlari menghampiri pagar, mendekati kantor satpam, penjaga sekolah. Saking terburu-burunya bahkan ia tak menyadari tugasnya yang sedari tadi terlepas dari genggamannya.

“Pak satpam, tolong bukain gerbangnya dong. Buruan pak… Fina mau masuk pak. Buruan pak!!” teriak fina kalang kabut sembari mengiba, memasang wajah penuh harap pada pak Tono, satpam sekolah.

“Aduh neng, iya iya… tapi jangan teriak-teriak gitu dong!” ujar pak Tono sewot, dengan malas ia membuka pintu gerbang. Dan membiarkan dua gadis berjilbab dihadapannya masuk. Setelah puas karena permintaanya dipenuhi, Fina lupa diri. Tanpa mengucapkan terimakasih ia berlari masuk kesekolah, menyusuri koridor panjang menuju kelas.

Sebaliknya, gadis berjilbab yang tadi disebelah Fina tidak segera melangkah masuk, ia malah tertegun cukup lama. Bukan sekali atau dua kalinya seseorang terlihat panik dan merasa takut ketika melihat luka bakarnya. Ketika ia tersadar dari lamunanya, ia menyadari beberapa lembar kertas berserakan dihadapannya. 
* * *
Saat teman-temannya sedang ribut membicarakan tugas dari bu Fatma, barulah ia menyadari bahwa tugasnya telah raib tanpa sepengatahuannya. Oh tidak! Dimana tugasku? batinnya khawatir. Bertepatan dengan itu tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kelasnya.
Tok.. tok.. tok
“Assalammualaikum, maaf apa benar ini kelas saudari Safina. Ini saya membawakan tugas miliknya yang jatuh” jelasnya singkat dan padat. Dan dalam sekejap seisi kelas terdiam. Semua mata tertuju pada pemilik suara. Lantas mereka saling bersitatap satu sama lain. Dengan tatapan seluruh teman-teman sekelasnya, ia paham. Mereka juga pasti merasa jijik deh dengan wajah itu, Batinnya berkata-kata. Saat itu juga Safina berdiri dan melangkah maju. 

“Tolong letakkan saja kertas itu di meja guru!” perintahnya kasar. Sosok yang berdiri di muka pintu, merasa kaget dengan gertakan Fina. Namun ia menyadari bahwa hal seperti ini sudah biasa ia jumpai ketika tiap orang melihat kekurangannya. Maka tanpa menunggu lama. Ia segera menurut. Mengerjakan apa yang seharusnya ia kerjakan. Dan setelah itu ia berlalu begitu saja. 

Setelah kejadian itu, gadis berjilbab tadi mencari tempat yang tenang untuk menumpahkan segalanya. Ia terisak pelan. Sedari tadi ia berusaha kuat untuk membendung air matanya, namun kali ini jebol sudah pertahanannya. Ia benar-benar merasa pilu. Hatinya perih dengan ucapan dan tingkah laku sosok perempuan yang tadi baru dijumpainya. 
* * *
Jam pulang sekolah sudah usai dari sepuluh menit lalu. Gadis bernama Ririn itu  berjalan keluar. Bertepatan dengan itu kedua matanya menangkap sebuah mobil box hitam yang sedang melaju kencang kearah yang hendak dilaluinya, dan saat itu matanya terpaku pada sosok perempuan berjilbab yang memakai seragam menyerupainya. Ia bergerak cepat, berlari secepat yang ia mampu. Dalam hitungan menit kejadian itu berlalu begitu cepat. Ia mendorong sosok perempuan itu untuk menjauh dari mobil, kalau saja Ririn tidak bergerak cepat tadi hampir saja jalan itu akan bersimbah darah akibat kecelakaan. Dan karena menolong sosok perempun yang tak dikenalnya, ia lah yang akhirnya harus berkorban.
Seketika jalan itu menjadi padat. Lalu lalang membuat jalan semakin macet. Dan orang-orang disekitar tempat kejadian pun segera mencari pertolongan untuk sang korban.
* * *
Dan sadarlah Fina, gadis berjilbab yang sedang dibalut perban oleh para guru, dialah pahlawannya. Bagaikan bidadari tak bersayap. Sosok yang baru tadi pagi sudah ia hina dan benci, justru malah yang menolongnya. Ia bahkan rela mengorbankan dirinya terluka. Sungguh Safina yang duduk menemani Ririn dwi sholehah itu menatap nanar. Matanya mulai panas. Ia menangis sesenggukan.. 

Ya Rahman Ya Rahim, hamba berjanji tak akan lagi menganggap rendah hamba-Mu. Siapapun dia. Bagaimanapun rupanya. Karena hamba sadar tak ada yang sempurna didunia ini kecuali Engkau pemilik segala Dzat, ucap Fina membatin

Tanpa menunggu lama, dengan air mata yang terus berurai diwajahnya. Fina memeluk Ririn dengan air mata yang kian tumpah, “Ma..ma…maafkan…aaa,,,aku..ya.., Aaa..aakk..ku me..nyessal”. Ucap Fina sembari sesenggukan, tak kuat ia membendung rasa haru sekaligus rasa menyesal yang begitu besar.

Dan Ririn dengan hatinya yang tulus dan jernih menjawab dengan penuh kelembutan.
“Tak apa kawan, tak perlu kamu menangis. Aku sudah ikhlas memafkanmu…” Jawabnya diiringi senyuman yang manis dan hangat kepada Fina. Seakan memberikan janji persahabatan dan persaudaran yang baru.

Quote behind story: Kita tidaklah boleh menilai seseorang dari rupa saja, karena rupa tidak menjamin buruk dan baiknya seseorang. Tapi lihatlah hatinya, kebaikannya. Karena keindahan yang sesungguhnya adalah apa yang keluar dari hati.

0 comments