Berhentilah Membedakan! Jika Tak Ingin Melukai

Perbedaan Allah Ta’ala ciptakan sebagai anugerah, bukan sebagai alasan pemecah belah. Tapi lihatlah, betapa banyak dari diri kita menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk berpisah, bermusuh, atau setidaknya saling merendah.

Perbedaan itu indah, dihadirkan sebagai warna-warni dalam kanvas kehidupan, namun kenapa masih banyak orang menjadikan perbedaan sebagai bahan olokan kepada sesama? Percayalah, antara sadar dan tidak, itu menjadi suatu hal yang menyakitkan bagi siapapun yang menerimanya, mendengarnya, melihatnya.


Perbedaan itu membuat kita saling melengkapi, seperti puzzle yang terlihat tak beraturan saat terpisah. Tapi terlihat bermakna saat sudah disusun dan disatukan. Lebih baik. Lebih tertata. Dan tentunya lebih berkesan.

Percayalah, merendahkan orang lain tidak akan membuatmu lebih terlihat sempurna di hadapan mereka, apalagi ia yang menjadi korban keangkuhanmu.

Percayalah, menganggap remeh sesama tak akan jauh membuatmu lebih berkuasa. Justru kau hanya akan terpandang lebih hina.

Percayalah, bukan perbedaan budaya, strata, jabatan, jenjang, harta, tahta, juga rupa yang akan menjadikan seseorang terlihat lebih berharga. Lebih mulia. Lebih terhormat. Bukan pembeda, bukan warna kulit, bukan suku, bukan kemahiran. Tapi hati. Akhlaknya. Budi pekertinya.

Berhentilah mengejek orang lain hanya karena dia tidak satu strata denganmu, sehingga ia terlihat berbeda dan jauh sepertimu.

Berhentilah menghina orang lain hanya karena dia tak  berpangkat sepertimu, sehingga ia terlihat rendah  dibandingkanmu.

Berhentilah menyebut-nyebut kekurangan orang lain. Jangan sampai sifat sombong, sifat angkuh, sifat merasa mulia menjadikanmu justru tak berarti apa-apa.

Berhentilah bersikap seperti itu. Kau tidak hanya mempermalukannya, tapi kau juga mempermalukan dirimu.

Berhentilah mengolok sesama hanya sebab dia tak memiliki jabatan, tahta, sepertimu. Mengoloknya tak akan membuatmu lebih bermartabat di mata manusia, tapi kau justru makin terhina lagi berdosa di hadapan Penciptanya.

Berhentilah membandingkan. Berhentilah menyebut perbedaan. Berhentilah mengungkit apapun yang membuat kau, dia dan mereka terlihat lebih berbeda. Ingat bukan tahta, rupa, jabatan, suku, budaya, tapi yang akan dilihat adalah imannya. Takwanya. Amalnya. Imannya.

Jadi berhentilah membandingkan, membedakan, merendahkan. Kau tak akan terlihat lebih berharga di mata mereka, namun kaulah yang akan menggulingkan rasa kemanusiaan dalam jiwamu hingga menjadi seseorang yang tak lagi berharga.

Berhentilah membandingkan jika tak ingin melukai.
Adakalanya kau harus berkaca.
Adakalanya kau perlu menjaga diri.
Adakalanya kau perlu memenjarakan lisan.
Karena jika yang kau ungkit adalah perbedaan, artinya satu hati telah kau beri goresan.



0 comments