Jangan Ikut-ikutan Valentine! Ini Dia Alasannya

Bulan Februari ini biasanya paling dinanti oleh sebagian muda-mudi. Terutama usia-usia belasan hingga dua puluhan. Dimana banyak orang yang menjadikan satu hari itu sebagai hari kasih sayang atau yang biasa disebut Valentine Day. Sehingga setiap orang menanti-nantikan hadiah special pada 14 Februari. Rupanya budaya barat telah menjadi bagian yang justru banyak diminati masyarakat. Tak terkecuali sebagian muslim dan muslimah di Indonesia.

Sebab maraknya pergaulan yang mengiblatkan gaya hidup orang barat justru menjadikan sebagian dari kita lalai dan asik terbawa arus kemudharatan. Yang mana banyak kemaksiatan dan huru hara yang justru dilakukan dengan alih simbol cinta atau kasih sayang pada hari itu.

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah:
Sudahkah kita mengetahui sejarah Valentin yang sebenarnya?
Benarkah bila umat muslim ikut merayakannya?

Dari sekian banyak catatan yang membahas seputar perayaan valentine ada satu yang paling terkenal. Yaitu kisah St. Valentinus yang hidup pada zaman Kaisar Claudius II. Dimana banyak sumber menyebutkan ia meninggal dunia sebagai martir (yang diyakini sebagai sosok pahlawan atas kepercayaannya). Sebelum kematian karena dipancung kepalanya, ia telah membuat pernyataan cinta yang dipersembahkan untuk seorang gadis sipir penjara, dengan mencantumkan “Dengan Cinta dari Valentinmu” pada tanggal 14 Februari 269 M.

Lantas, apakah pantas bila kita selaku umat muslim justu memeriahkannya dengan cara ikut-ikutan bertukar kado, coklat, bunga, dan lainnya? Rasanya tidak. Sangat tidak perlu. Jika secara sadar dan tidak sadar kita ikut merayakannya boleh jadi kita mendukung gerakan hari kasih sayang itu. Secara tak langsung itu artinya kita mengikutinya.

Tertulis dalam Al-qur’anul kariim, yang artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (Qs. Al-Baqarah: 120). Lalu bukankah bila kita merayakan hari Valentine itu tandanya kita telah bersedia mengikuti tradisi atau kebiasaan di agama mereka? Ah, jangan sampai kita mengikutinya.
Naudzubillahimindzalik.

Dalam hadist, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, artinya: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud). Tuh kan… udah jelas dilarang. Kata Baginda Rasulullah Saw aja kalau seseorang mengikuti atau menyerupai suatu kaum artinya termasuk golongan atau bagian mereka. Hayooo…udah ya gak usah ikut-ikutan acara palentinan.

Nah sekarang kan kita udah tahu bahwa Valentine itu tidak ada dalam islam, itu hanyalah cerita yang datang dari penganut agama Nashrani. Yuk,, alangkah bijaknya bila kita tidak perlu ikut serta, baik mendukung ataupun merayakannya.

“Lakum diinukum waliyadiin”. Untukmu agamamu dan Untukku agamaku. (Qs. Al Kafirun:6)

Wallahu'alam

Noted: Buat kamu yang butuh artikel islami dan menginspirasi secara langsung di smartphonemu, silahkan klik ini ya bit.ly/pemudakahfi.



1 comments: