Cerpen: Surat, Ibu dan Langit Merah Palestina





Ali hanya punya waktu sekitar satu menit untuk lari dari rumahnya. Hari itu, Jumat 11 Juli 2014 sekitar pukul 03.00, pria 45 tahun tersebut sedang tidur di bawah tangga bersama empat anaknya. Tiga putra dan satu putri. Ia terbangun saat mendengar tetangganya berteriak, "Dr Ali, lari! Mereka akan membom rumahmu!”

Di tengah kepanikan itu, Ali menyaksikan putranya, Hasbi yang berusia 6 tahun meremas celananya. Bocah cilik itu membeku, tak bisa bergerak. Raut wajahnya tak ubahnya dirinya. Mereka mengalami ketakutan yang sama. 
Ali sedang memperhatikan dan memberikan intruksi kepada keluarganya untuk segera menyelamatkan diri keluar dari rumah mereka yang berwarna kuning, yang baru ditinggali selama 2 tahun akibat rudal Israel yang pertama meledak dan membuat rumahnya dahulu hancur menjadi puing-puing.

"Cepatlah anakku, rudal israel akan turun dan menghancurkan seluruh bangunan disini," kata Ali dengan suara bergetar dan dengan mimik penuh kekhawatiran. Satu persatu putra dan putrinya berlarian, tergesa dengan air wajah yang tak tergambarkan lagi kesedihannya. Masih terbayang dalam khayal mereka sosok ibu tercinta yang dua tahun lalu membangunkan mereka, mengajak mereka untuk segera pergi dari kediaman yang mereka tempati. Karena pada pagi itu sudah terdengar bom-bom meledakkan bangunan yang tak jauh dari tempat mereka. Namun saat itu sang ibunda memang sedang mengandung dengan usia kandungan yang terbilang cukup tua. 

Maka ketika seluruh keluarga sudah berada diluar rumah. Ia tak sanggup lagi berkata-kata. Ia mulai merasakan nyeri di perutnya dan entah mengapa saat itu hanya kepada Rabb lah ia berserah diri. Dan setelah selangkah ia keluar dari biliknya. Tepat saat itulah rudal jatuh tepat diatas kediamannya. Dan saat itulah dua jiwa melayang, hadir menghadap sang Illahi yang merindukan ruh para syuhada. Tak ada yang tak menjerit dalam tangisan saat itu. Mata mereka banjir oleh derasnya air mata. Kecamuk dalam emosi yang tak tertuang bersama milyaran kepedihan terasa membuncah dalam darah dan daging. Dan setelah menyadari apa yang telah terjadi, hati mereka seakan lengah. Tak percaya bahwa dua orang terkasih telah berpulang menghadap Rabbul alamiin.

Keluarga besar itu lantas berdesakan di dalam mobil. Kendaraan itu seakan menjadi saksi peliknya perjuangan hidup mereka. Tanpa disangka rudal yang entah keberapa ditembakkan jet tempur, menghantam rumah lainnya. 

"Anak-anakku trauma akibat pemboman itu. Sungguh mereka adalah manusia tak berperasaan. Apa salah kami sehingga harus menanggung semua ini?," kata Ali. Anak-anak Ali berusia 6-16 tahun. Mereka belum mau kembali untuk memantau kondisi rumah mereka. "Trauma sungguh berat, sampai-sampai anak-anakku takut untuk pulang. Dan karena karunia dari Allah azza wajalla lah yang membuat kami selamat." Ceritanya pada beberapa rekannya saat itu.

Saat kembali ke rumahnya, Ali menyaksikan segalanya hancur lebur. Tersisa bangkai bangunan yang luluh lantak, lainnya tak lagi berwujud, bangunannya rusak parah, pecahan rudal memenuhi pantai, tak ada satupun pintu dan jendela yang utuh. Koleksi buku, foto, dan surat miliknya lenyap. Hancur menjadi satu pada puing-puing. Bersisakan asap-asap hitam yang mewarnai langit nan kelam. Berikutnya kepedihan dan trauma mendalamlah yang tersisa untuk mereka dan seluruh warga Gaza.

Dr. Ali tak sempat memikirkan atau menyelamatkan hartanya, termasuk kartu identitas sekalipun. Dalam kondisi terberat itu, serangan rudal Israel kembali menyerang area tempat tinggalnya. Anak-anak tetangga berteriak dan berlari ketakutan, membawa apapun yang bisa mereka bawa. Walaupun hanya kitabullah, kalam Illahi. Al-qur’annul karim. Setidaknya mereka akan mendapatkan kekuatan besar dari doa dan hati yang tenang karena membaca dan mentadabburinya.
Bagaimanapun, Ali dan keluarganya masih beruntung. Karena lebih dari ratusan orang tiap harinya harus menjadi korban dari kekejaman yang sudah diluar batas kewajaran itu. Biarlah langit menaungi kisah para syuhada.

* * *

Lain halnya sebuah rumah di Rafah, selatan Gaza, digempur rudal Israel. Keluarga Ghannam (sahabat Dr. Ali) tak menerima peringatan apapun. Tak ada yang tersisa kecuali darah dan air mata.

Esok paginya, para warga sipil bergotong-royong membantu para korban yang tewas ataupun terluka. Tak ada satupun dari mereka yang hanya diam memperhatikan. Kecuali para wanita yang menangis meraung-raung ditiap sudut bangunan, mengais reruntuhan berharap masih ada suami atau anak mereka yang masih bertahan hidup, walau rasanya tidak mungkin. Tapi apalah daya? Jiwa mereka lebih terhisap dalam kedukaan. Menangisi sanak kerabat yang pergi meninggalkan.

Sabtu, 12 Juli 2014. Dan pagi itu, untuk yang kesekian kalinya mukjizat Allah nampak dihadapan mereka. Seorang wanita paruh baya memanggil beberapa lelaki disekelilingnya dengan penuh kekhawatiran. 

“Tolong kalian angkat puing-puing ini, hatiku berkata ada titik kehidupan disana.” Tunjuknya kearah sebuah rumah yang hancur lebur oleh serangan rudal Israel malamnya.

Dengan begitu banyak kesulitan, para lelaki itu meletakkan tangannya melalui celah sempit dibawahnya untuk mencapai tubuh yang tertimpa reruntuhan. Wanita itu dan semua orang yang menyelamatkannya berharap sosok itu masih hidup. Namun tubuh dingin dan kaku menandakan bahwa tak lagi ada sisa kehidupan untuk seorang wanita yang badannya terkubur oleh bebatuan .

Mereka semua hendak mengangkat mayat wanita itu, namun entah bagaimana mereka menundanya. Dan berpindah pada korban yang selanjutnya. Tersisalah wanita paruh baya yang sejak awal memang yakin bahwa ada hal yang tak biasa didalamnya. Hingga akhirnya dengan sekuat tenaga dan naluri yang menggerakkan. Ia pun satu persatu mengangkat puing yang jatuh menimpa jasad itu.

Hingga direruntuhan yang berhasil dipindahkannya, ia berlutut mencondongkan badannya menghadap jasad yang telah terbujur kaku. Ada satu kejanggalan yang dirasakan oleh wanita palestina itu. Mengapa jasad itu berlutut seperti orang yang sedang menyembah? Tubuhnya condong kedepan. Dan kedua tangannya seperti sedang memeluk sesuatu. Entah benda atau selainnya. Rumah roboh telah menimpa punggung dan kepalanya.

Akhirnya muslimah itu mencondongkan kembali badannya, menatap lekat-lekat apa yang ada dibawah dan sekeliling jasad wanita itu. 

“Subhanallah!!” Wanita bernama Aisha itu berdecak antara takjub dan bahagia. Ia melihat dengan jelas bahwa dibawah mayat wanita itu ada sosok berbadan mungil.

“Anak kecil. Disini ada anak kecil…!!” ucapnya penuh rasa haru. Entah mengapa ia merasa bahwa ada mukjizat Allah yang terjadi kini dihadapannya.

Hingga akhirnya warga sipil yang berada didaerah tersebut segera berlari. Mereka bekerjasama mengangkat sisa puing-puing bangunan dan benda hancur yang menimpa wanita yang telah menjadi mujahidah itu. Dibawah jasadnya terlihat nampak sosok bayi mungil yang berusia sekitar empat bulan sedang tertidur lelap dalam balutan selimut yang tebal dibawah naungan sang ibu.

Jelas sekali, bukan hanya dengan melawan tentara zionis israel yang bisa menjadikan para wanita menjadi mujahadah. Tapi dengan menyelamatkan buah hatipun sudah cukup seimbang pengorbanannya. Manakala ia harus memilih nyawa siapa dulu yang harus diselamatkan. Maka tentulah cinta kasih seorang ibu menjadi keistimewaan manusia. Terutama untuk buah hati mereka. Maka tak bisa dipungkiri manakala kebenarannya hadist Nabi saw bahwa syurga dibawah telapak kaki ibu.

Dalam kisah tersebut sudah jelas bahwa wanita itu telah membuat pengorbanan yang besar untuk menyelamatkan anaknya. Dan anak itu masih tertidur pulas ketika salah satu tim penyelamat akhirnya datang dan mendekapnya.

Ketika anak itu dilarikan kerumah sakit, beberapa dokter dengan cepat datang menghampiri dan mengevakuasinya. Salah satu dokter membuka selimut tebal yang menutupi tubuh mungil bayi itu. Ia menemukan secarik kertas yang bertuliskan, “Jika kamu bertahan hidup, ingatlah ibu nak. Bahwa ibu akan selalu mencintaimu.”

Kertas itu dioper dari satu tangan ketangan yang lain. Tiap yang membacanya akan berlinang air mata. Tak kuat menahan haru. Hingga akhirnya mereka menangis.

Dan kisah itu menjadi salah satu bukti ke Maha Esaan Allah. Tentang betapa banyaknya pengorbanan para mujahidin dan mujahidah dalam menghadapi kekejaman tentara israel, ribuan nyawa jatuh berguguran. Namun tak pernah mengeluh dalam pengabdiaanya dan kepatuhannya kepada sang khaliq. Terlebih tentang kisah yang akan abadi dikenang oleh seluruh anak. Bahwa cinta kasih seorang ibu tak akan pernah putus. Selalu ada. Untuk selamanya.


Noted: Cerpen ini ditulis tahun 2014, sebagai tugas anggota Pramuda FLP Bekasi. 




0 comments