5 Kebiasaan Buruk yang Harus Ditinggalkan Generasi Milenial




Kamu, iya kamu? Tahu dong generasi Milenial itu apa? Kamu perlu tahu nih, karena pasti kamu salah satunya. Oke, mengutip dari laman wikipedia, Milea eh Milenial adalah sebuah kelompok setelah generasi X. Jadi, generasi Milenial bisa juga dikenal sebagai generasi Y. Umumnya, kelompok ini dikenal sebagai genarsi yang lahir antara tahun 1990-an sampai 2000-an. 

Contoh, jika kamu anak kelahiran 90an, misal 1991,1992,1993 dan seterusnya. Artinya, kamu lahir sebagai generasi Milenial. Yap, berhubung sudah tahu tentang generasi Milenial atau generasi Y, cus kita langsung aja telusuri 5 kebiasaan buruk generasi Milenial yang harus ditinggalkan. Penasaran? Cekidot.

1. Tidak Menjadi Diri Sendiri

Ini jelas, hal yang harus dihindari banget, lho! Karena akibat ingin dianggap gaul, keren, dan sebagainya,  terkadang seseorang berani untuk menggandakan dirinya. Alias, rela untuk berpura-pura menjadi orang lain. Itu artinya kamu nggak menjadi diri sendiri. Jika iya? Please, stop it. Kamu nggak akan lebih keren hanya sekedar ikut-ikutan. Apalagi sampai rela berpura-pura menjadi orang lain. Sungguh, itu hal yang nggak menyenangkan bagi siapapun, termasuk generasi Milenial. Jadi, berhentilah untuk menjadi orang lain. Dan berbanggalah dengan dirimu sendiri. Bukankah setiap orang lahir dengan keunikannya masing-masing? Yuk, tinggalkan kebiasaan ini. Be your self, dear!

2. Serba Ketergantungan

Memang benar jika kemajuan teknologi membuat segalanya begitu mudah. Beda dengan zaman kakek nenek atau ayah ibu kita yang dulu harus kerja keras untuk mencapai sesuatu. Misal mau ke sekolah yang jaraknya berkilo-kilo, ya harus jalan kaki. Agar bisa jajan di sekolah, ya harus bekerja atau berdagang dulu.  Beda dengan generasi sekarang, Milenial. Mau ini ada aplikasi, mau itu tinggal bilang. Mau cari sesuatu tinggal tanya ke mbah Gugel. 

Tapi ya, setiap sesuatu pasti ada positif negatifnya dong? Nah, dalam hal ini juga memberikan dampak buruk untuk kita, generasi Milenial. Apa akibatnya? Jadi serba ketergantungan. Sampai rela mengesampingkan, hal-hal yang sebenarnya sepele dan bisa dilakukan sendiri. Contoh, para murid mendapat tugas membuat karangan dari sekolah. Namun, karena kemudahan dalam mengakses berbagai hal dan rasa ketergantungan yang tinggi, mereka jadi menyalinnya dari sebuah situs. Lantas, bereslah sudah tugas itu. Nggak heran, akibatnya pola pikir sang anak menjadi sempit dan enggan untuk berkreasi.

3. Tontonan Dijadikan Tuntunan

Miris sebenarnya, melihat dan mengalami sendiri saat tontonan (yang tak mendidik) justru beredar luas di berbagai media saat ini. Baik media offline atau online. Memang tidak semua media tersebut menampilkan tontonan yang buruk, namun sayang, justru yang mudah diserap oleh daya pikir generasi Milenial adalah tontonan tersebut dijadikan panutan, tuntunan bahkan pedoman dalam berprilaku sehari-hari. Sedih? Jelas. 


Bagaimanapun saya, kamu dan kita semua berada di masa ini. Baik buruknya tentu ada, namun pintar dan bijaklah saat menonton sesuatu. Jangan semua diserap mentah-mentah lantas berpikir bahwa tontonan (buruk) yang ada, boleh dilakukan di kehidupan nyata. Sayangi dirimu dan orang-orang sekitarmu. Perhatikanlah apa yang ditonton, jangan sampai justru meracuni pola pikir kita dan keluarga generasi Milenial.

4. Minim Etika

Etika, akhlak, sikap atau apapun itu, adalah modal dalam bersosialisai. Kita ini makhluk sosial, yang tak bisa hidup sendiri dan sudah pasti membutuhkan orang lain. Sebagai generasi Milenial, pernah nggak sih, kamu perhatikan atau mungkin kamu sendiri merasa bahwa etika di zaman ini semakin krisis. Akhlak hormat kepada yang tua, mulai berani ditinggalkan. Sikap sayang kepada yang muda, mulai digengsikan. Akhirnya, kita terbenam dalam keegoisan masing-masing.

Kita memang patut berbangga sebagai generasi Milenial, tapi ingat, kita juga perlu berkaca dalam bersikap. Ya, jangan sampai sifat minim etika terjadi dalam diri kita ataupun keluarga kita. Karena bagaimanapun, seseorang akan dipandang baik dengan etikanya yang baik di masyarakat. Jadi, jagalah etika kepada siapapun. Meski kepada keluargamu.

5. Kecanduan Sosial Media Sampai Lupa Segalanya

Asli, kalau ini pasti sudah nggak perlu ditepis lagi, kan? Sebagian dari kita, generasi Milenial, pasti membenarkannya. Iya, memang sosial media kini mulai merambah luas. Mudah terjangkau. Praktis dan menyenangkan. Parahnya, terkadang seorang generasi Milenial nyaris melupakan segalanya karena asik dengan gadgetnya.

Sibuk hahahihi dengan sosial media yang dimainkannya. Duh, padahal lagi kumpul bersama keluarga besar. Ada eyang, opah, granma, uwa, bule, encang, encing yang jarang kumpul bersama. Tapi karena asik bermain sosmed, lewat deh moment berharga untuk berbagi cerita dengan yang terkasih. Ah, yang dekat menjadi jauh. Yang jauh menjadi dekat. Duh, nyes banget. Yuk, sebelum terlambat jauh. Hindari dan tinggalkan kebiasaan buruk tersebut. Toh, nanti juga kamu bisa kan untuk bersosmed setelah acara selesai.


Yap, guys. Itu sedikit bocoran kebiasaan buruk kita, genarasi Milenial yang mungkin sering kita lakukan padahal nggak bagus untuk dibiasakan. Selain berdampak buruk untuk kita, tentunya hal ini memberikan dampak buruk dalam dunia sosialisasi di masyarakat. Duh, semoga kita nggak melakukan kebiasaan buruk itu ya. Kalau iya, yuk kita ubah sama-sama. 

Sumber:
  • Milenial [https://id.wikipedia.org/wiki/Milenial]



0 comments