Kebanggaan, Keuntungan Serta Resolusi Sebagai Narablog di Era Digital

narablog


Yesterday’s the past, tomorrow’s the future, but today is a gift. That’s why it’s called the present. –Bil Keane.
Sebuah kalimat pembuka yang manis dan sangat menyentuh bagi saya. Jujur, untaian kata demi kata yang tertera di atas memang sangat seirama dengan apa yang saya rasakan. Memaknai kalimat di atas, membuat kesadaran akan berharganya waktu terasa begitu nyata. 

Sebab itu, jika hari ini Allah masih berkenan memberikan waktu. Maka Dia telah memberikan kesempatan sekaligus hadiah bagi saya pribadi.

Tak disangka, 3 tahun sudah saya terjun sebagai narablog. Memulai segalanya dari awal. Memulai dengan minimnya pengetahuan dunia blogging. Hanya bermodalkan niat dan cinta terhadap dunia kepenulisan, yang lantas membuat  hati mantap untuk menjadi seorang narablog pada era digital ini. 

Dari waktu, saya tahu setiap perjalanan mempunyai kisahnya tersendiri. Termasuk perjalanan ngeblog dari orang yang ngakunya blogger, seperti saya.

narablog

Tidak ada paksaan untuk menjadi seorang narablog. Sebab memang sejak dulu saya gemar menulis. Bagi saya, menulis itu bukan hanya sekedar menyusun kata demi kata. Tapi menulis juga sebagai wadah untuk mencurahkan isi hati juga isi kepala, yang nantinya diharapkan bisa dipami dan diresapi oleh kepala dan hati pembacanya. Sesederhana itu.

Meski begitu, saya menyadari bahwa  seorang narablog di era digital kini memberikan peluang juga kesempatan yang menjanjikan. Hal itu didukung lantaran pengguna internet di Indonesia dari waktu ke waktu semakin meningkat tajam. Membuka potensi juga peluang bagi setiap orang untuk berkarya dengan segala kemampuan yang dimilikinya. 

Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Nano-nanonya rasa menjadi seorang blogger, mungkin belumlah seberapa. Tapi sangat berarti dalam hidup saya. 

Dari pertama kali memilih membuat blog gratisan, kemudian hijrah menjadi blog dengan TLD. Dari konten yang isinya cuap-cuap curhat ala anak abege, kemudian beranjak menjadi opini hingga artikel yang cukup oke (menurut saya). Dari jadwal ngeblog yang sesuka hati, kemudian lebih terjadwal menjadi  seminggu 3-4 kali. Dari yang hanya tulis lalu posting, kemudian berubah menjadi lebih peka dan cermat apakah tulisan seperti itu layak di lahap masyarakat.

Yap, pada kenyataannya semua itu berproses dan saya menikmatinya. Sangat menikmatinya.

Hingga setahun terakhir ini, barulah semua jatuh bangun itu akhirnya berbuah manis. Alhamdulillah, Allah berikan saya beberapa kali kesempatan untuk memiliki momen spesial sebagai narablog. Namun semua itu diperoleh, tentu bukan soal kerja keras semata. Tapi juga campur tangan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi saya pribadi, menjadi figur narablog pada era digital ini memiliki kebanggaan dan keuntungan tersendiri. Berikut detailnya:
narablog


Berkat ngeblog, saya merasakan kemampuan saya dalam dunia jurnalistik bisa tersalurkan dengan baik di tempatnya. Tidak seperti dulu semasa SD, saya hanya menulis dan menyimpannya di sebuah diary. Sekarang, beda zamannya, beda juga wadahnya. 

Melalui blogging, saya bisa membaca ulang kumpulan tulisan dari dulu hingga sekarang. Tanpa takut hilang apalagi tercecer. Belum lagi, kapasitasnya yang bisa menampung tanpa ada batasan. Semua ide, karya hingga kreatifitas bisa tersimpan dengan baik melalui ngeblog.


Adanya internet di masa ini, memberikan banyak kemudahan juga kecepatan tersampainya pesan kepada setiap orang. Tak heran, bila segala informasi, baik berupa tulisan, video hingga audio bisa dijangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Untuk itulah informasi yang diposting dalam blog bisa dengan cepat dan mudah diterima oleh masyarakat di seluruh dunia.

Jadi, blog saya bisa dijangkau teman-teman di dalam hingga luar negeri.  Sedangkan blog mereka, juga bisa saya kunjungi.


Menjadi seorang narablog pada dewasa ini, membuka peluang bagi setiap orang untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Dengan membuat, memposting dan menyebarkan tulisannya di blog, maka seorang narablog secara tak langsung menunjukkan keberadaannya. Yang selanjutnya, akan mengundang rasa penasaran publik kepadanya.


Sebagai seorang narablog atau yang eksis disapa sebagai blogger, tulisan bagaikan nyawa sebuah konten. Meskipun ada gambar, video juga infografis yang mendukung tapi tulisan adalah rajanya. Jika tulisannya sudah berkualitas, maka gambar dan videonya adalah pendamping tulisan yang membuatnya terlihat semakin bernilai.

Sebab itu, seorang narablog selalu berupaya mengasah kemampuan menulisnya agar lebih baik dari waktu ke waktu. Seperti itulah yang saya rasakan ketika menjadi blogger. Sedikit demi sedikit, saya merasakan keuntungan menjadi narablog dengan semakin terasahnya kemampuan menulis yang saya miliki.

Yang membuat para blogger semakin terpacu untuk berkarya, salah satunya adalah karena blogging bisa memberikan keuntungan materi. Di antaranya melalui iklan seperti Google Adsense, menjalankan afiliasi, menawarkan jasa kepada orang lain untuk membuat konten yang diinginkan, menjajakan produk di laman blog, ikut serta pada ajang kompetisi blog dan lainnya. Dengan begitu, selain hobi menulis tersalurkan. Menjadi narablog pada era digital ini juga bisa menjadi penghasilan. Menggiurkan.


Semakin aktif dalam dunia blogging, artinya semakin besar juga peluang untuk dikenal orang banyak. Bukan tidak mungkin hubungan kepada pembaca, pengunjung bahkan sesama blogger bisa terjalin dengan baik. Apalagi dengan aktivitas blog walking, membuat saya semakin mengenal sang empunya blog tersebut. Teman bertambah, wawasan pun berkembang.

Inti dari itu semua adalah...


narablog

Mesi begitu, saya menyadari bahwa tiga tahun bukanlah apa-apa. Masih banyak hal yang belum dipelajari juga diraih. Itulah yang akhirnya membuat saya bergegas untuk membuat resolusi sebagai narablog di tahun 2019.


narablog

Belajar dari pengalaman, saya ingin status saya sebagai narablog tidak sekedar TLT (Tulis Lalu Posting). Jika seperti itu, semua orang tentu bisa. Tapi saya berusaha ingin menghadirkan tulisan yang menggigit lagi menarik. Seperti apa tulisan yang menarik? Itulah yang kemudian menjadi PR saya.


Selain tulisan yang menarik, gambar yang unik juga mendukung gregetnya tulisan di mata pembaca. Seperti saya yang berkunjung ke blog orang lain, lalu tertarik dengan tampilan desain grafisnya yang unik dan cantik. Seperti itulah saya ingin menerapkannya di blog pribadi. Untuk itu, mempelajari desain grafis lebih matang dan mendalam menjadi bagian resolusi di tahun 2019.


Sebagai orang yang ngakunya narablog. Saya ingin tegas terhadap jadwal blogging yang telah dibuat, ODOP (One Day One Post). Setidaknya minimal seminggu 4 kali. Jadwal itu dibentuk guna menerapkan sifat disiplin dalam blogging. Tentunya, semua itu dimulai dengan niat yang kuat dari sekarang. 

Bismillah, I can do it

Seperti itulah guys, kebanggaan, keuntungan serta resolusi yang menjadi bagian spesial dalam perjalanan ngeblog  saya. Semoga semua hal di atas bisa menjadi motivasi saya untuk menjadi narablog yang lebih baik lagi. Doakan ya!







0 comments

HUT Bukalapak