Jangan Mencari!




Untuk melihat sisi lain dari diri Anda, jangan terlalu sibuk melihat penekanan. Jangan fokus pada rasa kecewa. Jangan sibuk dengan mengoreksi apa yang mengeruhkan keadaan. karena semua akan menjadi tak baik dan tak sehat untuk diri Anda. Jangan keliru mencari kebahagiaan yang tak nampak, sedangkan kebahagiaan dan ketentraman yang dimiliki saat ini lebih berharga, meski sering kali tak nampak dan tak disadari.

Hasrat untuk mencapai sesuatu yang sangat jauh adalah parasit. Sedangkan sesuatu yang dekat tidak nampak dan seakan tidak menarik untuk dicapai. Mengapa harus fokus kepada hal-hal yang jauh dari pandangan, jika yang dekat di pelupuk mata justru begitu berharga.

Merasa tidak baik, terutama menekan kepada diri sendiri adalah bentuk kejahatan pribadi. Ketidak adilan atas apa yang diri telah perjuangkan. Tidak menghargai jerih payah, waktu, tenaga, pikiran dan segala kemampuan yang telah diri lakukan. Itu jahat, karena jalan untuk merampas kebahagiaan. Beringas tapi disikapi dengan tenang.


Jangan memulai untuk mencari, tapi mulailah untuk menemukan. Kebahagiaan itu dekat dengan urat nadimu, mengapa harus mencarinya ke ujung dunia atau kepada rumput tetangga?

Semakin mencari, semakin kabur dan tak nampak. Kamu akan tidak sadar pada tahap krisis kesehatan mental. Semakin tidak kenal akan jati diri dan yang hati inginkan. Jangan berusaha untuk mencari arti dan teori tentang segala sesuatu, karena itu tidak berarti untuk dirimu. Tidak ada kebahagiaan yang dicari, tapi kebahagiaan ada karena diciptakan. Jangan menunggu  datang, tapi mulailah untuk mewujudkannya.

Bersikap acuh terhadap suatu kondisi mungkin terkesan tidak wajar bagi sebagian orang, tapi untuk sebagian yang lain itu adalah proses untuk menutup segala hal yang sulit diungkapkan. Sesekali tidak mendengarkan nasihat dari suara lain, mungkin akan sedikit membuatmu lebih waras. Lebih hidup dan lebih bahagia.

Sakit atas kesalahan dan kekecewaan akan menjadi lecutan untuk menemukan titik penting dari sebuah hubungan. Komunikasi yang sehat, waktu yang diluangkan, saling memahami adalah bentuk dari menghargai arti ikatan itu sendiri.

Pernah keliru bukan berarti kejahatan besar. Bukankah manusia memang tempatnya keliru, salah dan lupa? Namun manusia yang baik adalah ia yang mengambil hikmah dari kekeliruan, kesalahan, air mata dan luka yang basah. Meski ia sendiri yang berulah.

Mengapa sering kali kita fokus pada kejadian negatif, sedangkan banyak hal-hal positif yang melingkar di sisi kita?

Menjadikan emosi sebagai kiblat untuk menyelesaikan masalah adalah melahirkan masalah baru. Lega sesaat, tapi menyesal tak berakhir. Sesak di awal, namun sangat menyakitkan tanpa batas. Berbekas namun tak nampak wujudnya.  

Kesedihan bisa diluapkan dengan jalan terbaik, demi menjaga kesehatan hati, mental dan fikiran agar tetap lurus menjadi manusia andalan.

Belajar bijak dalam menghargai suatu perbedaan akan melahirkan suatu keputusan. Namun, itu adalah suatu kebenaran. Memang akan sedikit membuat gusar, tapi akan melahirkan sebuah ketenangan. Percayalah, bahagiamu dimulai dari mencintai dirimu dan segala hal yang berputar di sekelilingmu.



0 comments

Promo Gajian Januari 2019