Surat Nanda Untuk Ibu

Gambar 1: Surat Nanda Untuk Ibu
Bu,
Apa kabarmu disana?
Semoga ibu tak pernah bosan ya dengan pertanyaanku yang selalu sama. Karena dalam hidupku, kabar paling penting adalah tentangmu. Memastikan bahwa ibu baik-baik saja, itu jauh lebih membahagiakan daripada apapun.
Ibu pasti ingin tahu kabarku juga kan? Tak perlu khawatir bu. Aku akan selalu merasa baik, selama aku memastikan bahwa ibu juga dalam keadaan yang baik, sehat dan bahagia. Karena separuh jiwaku adalah cinta untuk ibu.
Bu, seperti biasa ini surat mingguan yang aku siapkan untukmu. Kali ini tentu lebih spesial dari biasanya, aku akan bercerita tentang seseorang yang sama berartinya seperti ibu. Semoga ibu siap untuk mendengarnya ya.
Bu, tentu ibu tau gadis kecilmu kini semakin dewasa. Ibu juga yang mendukung keputusanku untuk merantau demi mengecar cita-citaku di ibu kota ini. Selama sebulan ini semua berjalan seperti biasanya, pagi sampai sore bekerja, malam harus kuliah.
Awalnya aku ingin mengeluh, ternyata semua tak semudah yang kubayangkan bu. Ibu benar dan sangat benar. Terkadang kenyataan tak sesuai angan. Cukup rumit mengatur waktunya bagiku bu. Gadis manja yang selalu berlindung pada ibu.
Disini aku tinggal sendiri, memasak sendiri, mengurus kamar sendiri dan semuanya serba sendiri. Berbeda saat dirumah, dari awal bangun sampai kembali tidur semua ditemani ibu dengan sempurna. Ibu memang segalanya, tak pernah mengeluh dan lelah. Walau aku tahu semua pekerjaan rumah tak ada yang ringan, tapi kau menjalaninya dengan penuh ketenangan, rasa cinta dan ketulusan.
Disini, aku memasak saja kadang mengeluh bu. Menggoreng ikan saja aku payah, sudah keciprat minyak, ikannya gosong lagi. Hehe. Ibu boleh saja tertawa...tapi nanti aku pasti bisa masak ikan seenak buatan ibu yang yummy tiada duanya.
Aku mau cerita sedikit, tapi ibu harus janji ya jangan khawatir dan cemas. Karena semua ini telah berlalu dan sekarang aku sehat seperti sedia kala.
Bu, kemarin aku demam berhari-hari. Aku tak tahu apa penyebabnya. Tapi kurasa karena aku sering pulang dalam keadaan basah kuyup beberapa hari. Setelah basah kuyup aku langsung ganti baju dan berangkat kuliah. Kadang aku lupa makan. Cerobohnya aku ya bu?
Saat-saat seperti itu aku dipertemukan dengan sosok malaikat seperti ibu. Namanya mbah Isyeh. Perempuan yang berusia sekitar lima puluh tahun lebih. Beliau penjual bubur ayam didepan kosanku bu. Saat aku sakit, beberapa kali beliau sempat menjenguk sambil membawa bubur ayam buatannya bu. Beliau juga yang menemaniku berobat.
Ingin menangis aku bu. Bukannya apa, saat aku jauh dari ibu aku justru dipertemukan dengan seorang wanita yang baiknya percis seperti ibu. Walau aku tahu, hanya ibu juara dihatiku. Hehe…
Ibu benar, orang baik akan dipertemukan dengan yang baik pula. Memang sebelumnya Mbak Isyeh dan aku sering bertemu. Setiap dua hari sekali aku pasti membeli bubur di warungnya untuk sarapan bu. Dan ternyata mbak Isyeh juga memiliki anak perempuan yang sebaya denganku. Kata beliau mampir saja ke warung mbah jika butuh teman bicara dan anggap seperti ibu sendiri.
Bu, Alhamdulillah aku dipertemukan dengan mbak Isyeh. Aku jadi tidak sendiri lagi, aku menemukan tempat berlindung sekarang.
Bersama surat ini aku ingin sampaikan, walau jarak membentang luas. Walau raga terpisah jauh. Tapi aku yakin kidung-kidung doa dan cinta ibu akan selalu ada untukku. Tapi ibu tak perlu khawatir. Meskipun aku dekat dengan mbak Isyeh, tapi ibu yang paling kucinta adalah dirimu. Satu-satunya, tak ada yang lain.
Aku tahu ibu pasti tersenyum. Hehe…
Banyak hal yang sering mbak Isyeh katakan, tapi satu hal yang paling kuingat ucapannya adalah “Neng, kasih ibu itu sepanjang masa… sejauh apapun kau berusaha untuk membalas jasanya, kau belum tentu sanggup menyamainya. Maka teruslah berbakti padanya, cintailah ia sepanjang hidupnya, rawatlah ia dihari tuanya, hormatilah dirinya, dan doakanlah selalu kebaikan untuk hidupnya. Karena demi hidupmu, ia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.”
Gambar 2: Ilustrasi
Bu, aku menangis saat menulis bagian itu. Seandainya aku punya pintu kemana sajanya Doraemon, aku ingin segera ada dihadapan ibu dan memeluk juga mencium pipi cantik ibu.
Oya bu, selain surat ini ada kain batik dari Mbah Isyeh buat ibu tersayang. Juga ada satu kardus kecil bersampul kertas coklat, didalamnya handphone. Itu untuk ibu pakai ya, nomernya sudah aktif. Sudah rapih pokoknya. Jadi tinggal siap pakai. Hape ibu yang rusak itu simpan saja ya. Sms adek jika sudah sampai. Supaya kita sering telpon-telponan ya bu.
Aku mencintaimu, selalu.
Salam hangat sehangat pelukanmu,
Ananda.

NB: Surat diatas adalah surat kecil untuk ibu. Sebagai contoh untuk perantau yang ingin menyenangkan hati ibu. Selamat hari Ibu. Semoga Allah, selalu menjaga ibuku, ibumu dan seluruh ibu-ibu di dunia.💗💗

"Rabbigfirli waliwa lidayya warhamhuma kaama robbayaanii shogiira. Aamiin"

0 comments