Antara Pisau, Silaturahmi dan Won

Ini cerita bukan sembarang cerita. Ini kisah bukan sembarang kisah. Semua ini bermula dari kisah hilangnya pisau. Lebih tepatnya rasa bersalah karena telah menghilangkan atribut dapur bernama pisau. Berhubung si pisau ini bukan barang pribadi alias barang kepunyaan kampus, alhasil rasa bersalah untuk segera menggantikan pisaupun selalu menghantui hati ini. (Alamak >.<)

Jangan tanya kenapa pisaunya bisa hilang? Biarkan kardus kue, krim, malam dan Pencipta yang tahu alurnya. Oke lanjut ya. Benar lho, segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Bukan tanpa sebab, Allah mengatur segala sesuatunya sedemikian rupa. Pasti ada saja pesan dari setiap kejadian. Dan dari hilangnya pisau itu, menjadi awal mula pertemuan tak terduga. Tentang dosen, mahasiswa, kopi, cerita kehidupan dan oleh-oleh bertabur mimpi.

Sesuai dengan judul, pada postingan kali ini akan saya bercerita tentang pisau, silaturahmi dan won. Tau dong won itu apa? Yang jelas, bukan Won-der Woman. Tapi won disini adalah mata uang Korea Selatan dan Utara. Bukan tentang berapa nominal won yang ada, tapi tentang bagaimana won itu memiliki kisah yang tak biasa.

Berikut ceritanya...

Minggu, 29 Juli 2018. Sekitar pukul 10.00 WIB saya dan Miss Andriani tiba di kampus. Kampus yang pernah menjadi saksi tentang perjalanan mereguk ilmu. Kampus yang pernah menyimpan tapak dan langkah kecil. Kampus yang pernah menjadi jalan bagi setiap pemimpi. Bogor EduCARE. Yes, akhirnya perjalanan panjang untuk mengembalikan pisau jadi juga. Berhubung datengnya di waktu yang super tepat (read: waktu libur) kebayang dong sepinya kampus ini.

Meski sepi tapi ada lho yang setia menemani dan menjaga keamanan kampus asri ini. Seorang bapak paruh baya yang menyambut kedatangan kami dengan ramah. Alhasil, saya titipkan pisau hitam tersebut kepada si bapak yang kebetulan mendapat tugas untuk menjaga kampus. Dan, sebelum si bapak bingung kenapa saya bawa-bawa pisau, segeralah cerita panjang kali lebar menyelami suasana. Haha. Untung si bapak tertawa dan memaklumi.

silaturahmi
Gambar 1: Kampus Bogor EduCARE dari Luar (Minggu, 29 Juli 2018)
Ah, melihat kampus rasanya kami jadi menyelam masa lalu. Beuuh.Teringat kembali perjuangan dalam menyerap ilmu bersama rekan-rekan seperjuangan. Teringat kembali jasa-jasa dan cinta yang para dosen ajarkan. Dan ya, kami jadi teringat salah satu dosen kami yang katanya telah mengundurkan diri dari almamater ini. Beliau adalah dosen grammar semasa kami menimba ilmu disana, pak Adi Purwanto.

Bukan tanpa sebab beliau undur diri untuk berhenti mengajar. Namun, ada tugas utama sebagai seorang suami yaitu mendampingi sang istri yang akan berangkat ke Seoul untuk menjadi dosen tamu di Korea Selatan. Lebih tepatnya dosen tamu untuk mengajar di HUFS (Hankuk University of Foreign Studies) Korea Selatan.

Sebenarnya itu berita menyenangkan. Hei, siapa sih yang ngga mau ke Korea Selatan? Bukan semata-mata untuk ketemu Oppa lho ya. Namun ini karena tugas mulia lagi istimewa untuk menjadi dosen tamu disana. Tapi, karena beliau sudah seperti orang tua bagi kami, rasanya ingin sekali kami bertemu dan bersilaturahmi meski hanya sebentar. Betapa senangnya saat dihubungi, beliau memiliki waktu luang.

Komplek yang asri, rumput-rumput yang hijau dan tanah lapang menjadi pertemuan saya, miss Andriani dan Bapak Grammar kebanggaan, pak Adi. Jangan tanya ya, kok ketemuannya di halaman , ngga dirumah? Ada urusan yang ngga perlulah dijelaskan. Kalau dijelaskan nanti ini bukan jadi postingan tapi jadi novel. Hahaha.

Silaturahmi
Gambar 2:  Pak Adi Selaku Dosen Grammar BEC 
Next, perbincanangan mulai tentang kabar, kesibukan, pekerjaan, pendidikan menjadi topik hangat kami. Selanjutnya, kami bertiga berbincang tentang bu Tami (istri dari pak Adi), persiapan menjadi dosen tamu, dan ya banyak sekali yang pak Adi sampaikan. Kalau kata orang Betawi, bicaranya ngalor ngidul. Dari ujung ke ujung seakan menjadi perbincangan yang menyenangkan. Bahkan sampai pengalaman beliau ketika di Singapura pun kami dengarkan. Seru? Tentu.

Banyak sekali hal-hal yang mengena di hati kami dari obrolan ringan bersama beliau. Ada satu pesan yang bahkan kami berdua ingat, "Belajar memang harus serius, tapi jangan lupa main, bila perlu banyakin." Meski kita seorang pelajar, tapi jangan lupa juga membebaskan diri kita untuk bermain dan meliburkan diri. Tapi dengan syarat jangan sampai juga melupakan tugas utama kita untuk belajar..

Ngga cukup sampai disitu, kami juga diundang untuk bertandang ke rumah beliau yang tak jauh dari lokasi kami bertemu. Sekalian juga kami bersilaturahmi dengan seorang wanita, yang sejak tadi sudah menjadi inspirasi kami. Beliau adalah bu Utami Utar S.K selaku istri dari pak Adi. Tak hanya menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, beliau juga seorang dosen, penulis, penerjemah bahkan beliau juga aktif dalam beberapa komunitas. Untuk mengenalnya lebih jauh, silahkan berkunjung ke blog pribadi bu Tami disini

Sambutan hangat mewarnai kedatangan kami. Berbagai aneka suguhan disediakan. Memang sebagai pasangan pencinta kopi tak heran jika beliau memberikan tawaran kepada kami untuk mencicipi kopi yang masih asli. Masih dalam bentuk biji yang kemudian digiling dengan mesin kopi dan baru lah diseduh. Jujur, ada perasaan ngga enak gimana gitu. Secara yang mengolah dan menyeduhnya adalah beliau sendiri. Tapi mau gimana, rejeki tak boleh ditolak tho? Lagian kalau buat sendiri takut berantakin dapur beliau. Kan makin ngga enak? Hehe. Akhirnya kami mencicipi kopi Robusta racikan tangan pak Adi. Bahkan diperlengkap dengan mie *am*a** juga lho! Hiks, terharu tapi malu sebenarnya. Apa karena muka si tamu dua ini keliatan lapar ya? >.<

silaturahmi
Gambar 3: 2 Cangkir Kopi Robusta 

Silaturahmi
Gambar 4: Mie *am*a**  Racikan Pak Adi 

Berhubung pada hari yang sama bu Tami akan mengadakan bedah buku "Kumpulan Esai: Ruang Berbagi" di sebuah resort pukul 15.00 WIB, tentu kami merasa sudah waktunya pamit untuk kembali. Padahal beliau berdua mengundang kami secara langsung untuk datang jika ada waktu. Hiks, tapi mau gimana? I wanna back to Bekasi and the time is too late if I have to be in Bogor for hoursAlthough the heart wants but sometimes unfriendly time. Akhirnya, bu Tami masuk ke dalam rumah dan kembali dengan membawa selembar dan sekeping won di tangannya. Masing-masing kami mendapatkan 1100 won. Waw, betapa bahagianya kami. Mengingat dari won tersebut ada banyak kisah yang beliau sampaikan kepada kami.

Silaturahmi
Gambar 5: Buku yang Ditulis Oleh Bu Tami 

Silaturahmi
Gambar 6:  1100 Won dari Bu Tami yang Akan Menjadi Dosen Tamu di  di HUFS
Bahkan kami juga mendapat 2 sachet teh asli Korea Selatan sebagai pelangkapnya. Wah, padahal niat kami hanya untuk bersilaturahmi dan ingin berbincang sebentar dengan beliau berdua sebelum pergi ke Korea. Tapi karena sudah bercerita banyak hal, tanpa terasa berjam-jam kami disana. Berkah silaturahim kami mendapat won yang punya cerita. Won bukan sembarang won, ada kisah yang membuat kami percaya bahwa tidak ada sesuatu yang tak mungkin. If Allah is willing, then everything that is impossible for us, will be very possible for Allah. Kun Fayakun!

Silaturahmi
Gambar 7:  2 Sachet Teh Asli KorSel 

Kami berharap, semoga lain waktu akan bertemu pak Adi dan bu Tami kembali. Bahkan tak hanya berbaik hati dengan memberi won, kami pun turut didoakan semoga bisa menyusul ke Korea Selatan. Aaamiin, jawab kami sembari terseyum sumringah =). Sukses selalu ya pak Adi dan bu Tami. Semoga Allah selalu menjaga dan memberkahi bapak dan ibu dimanapun.

Silaturahmi
Gambar 8: Pak Adi dan Bu Tami Setelah Acara Bedah Buku Ruang Berbagi

Terimakasih pak Adi dan bu Tami.
Dan terimakasih untuk dokumentasinya miss @ndandriani





0 comments